Makalah Filsafat Pendidikan
1. Pengertian Filsafat
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang
hakikat kebenaran sesuatu. Hakikat filsafat selalu menggunakan ratio (pikiran), tetapi tidak semua proses berpikir disebut
filsafat. Filsafat merupakan ilmu yang tertua dan menjadi induk ilmu
pengetahuan yang lain. Sebagaimana di ungkapkan oleh John S. Brubacher
sebagai berikut:
Philosophy was, as its etymologi from the Greek words Pilos and
Sopia, suggest love of wisdom or learning. More over, it was love
of learning in general; it subsumed under one heading what to day
we call science as well as what we now call philosopy. It is for
the reason that philosophy is often referred to us the mother as
well as the queen of the science.
Artinya: Filsafat berasal dari perkataan Yunani yaitu Philos
dan Sophia yang berarti cinta kebijaksanaan atau belajar. Lebih dari itu dapat di artikan cinta belajar pada
umumnya termasuk dalam suatu ilmu yang kita sebut sekarang dengan filsafat, untuk alasan inilah maka sering dikatakan bahwa
filsafat adalah induk atau ratu ilmu pengetahuan.
Pemikiran manusia dapat dipelajari dalam 4 (empat) golongan, yaitu:
a. Pemikiran pseudo ilmiah
b. Pemikiran awam
c. Pemikiran ilmiah
d. Pemikiran filosofis
Pemikiran pseudo ilmiah berumpu pada aspek kepercayaan dan kebudayaan
mitos, yang bekas-bekasnya dapat kita jumpai dalam astrologi atau
kepercayaan terhadap buku primbon. Pemikiran awam adalah pemikiran
orang-orang dewasa yang menggunakan akal sehat, karena bagi orang-orang
awam untuk memecahkan kesulitan dalam kehidupan cukup menggunakan akal
sehat tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu. Selanjutnya,
pemikiran ilmiah menggunakan metode-metode, tata pikir dalam paradigma
ilmu pengetahuan tertentu, dilengkapi dengan penggunaan hipotesis untuk
menguji kebenaran konsep teori atau pemikiran dalam dunia empiris yang
tidak pernah selesai dalam proses keilmuan. Sedangkan pemikiran
filosofis adalah kegiatan berpikir reflektif meliputi kegiatan
analisis, pemahaman, deskripsi, penilaian, penafsiran dan perekaan yang
bertujuan untuk memperoleh kejelasan, kecerahan, keterangan,
pembenaran, pengertian dan penyatupaduan tentang objek .
1.1 Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah segala upaya, latihan dan sebagainya untuk menumbuh
kembangkan segala potensi yang ada dalam diri manusia baik secara
mental, moral dan fisik untuk menghasilkan manusia yang dewasa dan
bertanggung jawab sebagai makhluk yang berbudi luhur.
Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan peribadi manusia
dari aspek-aspek rohaniah dan jasmaniah juga harus berlangsung secara
bertahap. Oleh karena suatu kematangan yang bertitik akhir pada
optimalisasi perkembangan/pertumbuhan, baru dapat tercapai bilamana
berlangsung melalui peroses demi peroses kearah tujuah akhir
perkembangan atau pertumbuhannya.
1.2 Pengertian Fislafat Pendidikan
Menyimak dari dua pengertian di atas, maka filsafat pendidikan dapat di
artikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem aliran
filsafat terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana
pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Di samping itu, filsafat pendidikan juga merupakan studi tentang
penggunaan dan penerangan metode dan sistem filsafat dalam memecahkan
problema kependidikan, dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang
jelas terhadap pelaksanaan pendidikan.
1.3 Aliran-aliran Modern Filsafat Pendidikan
a) Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran filsafat yang paling tua yang umumnya
disandarkan dengan filsuf besar Plato. Aliran ini
memiliki suatu keyakinan bahwa realitas ini terdiri dari subtansi
sebagaimana ide-ide atau spirit. Alam nyata tergantung pada Tuhan
sebagai Jiwa Universal. Alam nyata ini adalah pancaran dan ekspresi
dari Jiwa Universal itu. Realitas yang sesungguhnya bukanlah terletak
pada bendanya, tetapi pada sesuatu yang berada didalam dan mengikat zat
tersebut, sehingga ia menjadi wujud. Pengetahuan menurut aliran ini
tidak lain adalah yang ada dalam ruang idea.
Aliran filsafat Plato dapat dilihat sebagai suatu reaksi terhadap
kondisi perubahan terus-menerus yang telah meruntuhkan budaya Athena
lama. Ia merumuskan kebenaran sebagai sesuatu yang sempurna dan abadi (eternal). Dan sudah terbukti, bahwa dunia eksistensi
keseharian senantiasa mengalami perubahan. Dengan demikian, kebenaran
tidak bisa ditemukan dalam dunia materi yang tidak sempurna dan
berubah. Plato percaya bahwa disana terdapat kebenaran yang universal
dan dapat disetujui oleh semua orang. Contohnya dapat ditemukan pada
matematika, bahwa 5 + 7 = 12 adalah selalu benar (merupakan kebenaran
apriori), contoh tersebut sekarang benar, dan bahkan di waktu yang akan
datang pasti akan tetap benar.
1.4 Tokoh-Tokoh Aliran Idealisme
Aliran ini banyak melahirkan tokoh-tokoh besar yang sangat berpengaruh,
di antaranya yaitu:
1. Plato (477 -347 SM
Menurut Plato, kebaikan merupakan hakikat tertinggi dalam mencari
kebenaran. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh
bagi pengalaman. Siapa saja yang telah mengetahui ide, manusia akan
mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakannya sebagai alat
untuk mengukur, mengklarifikasikan dan menilai segala sesuatu yang
dialami sehari-hari.
2.
J. G. Fichte (1762-1914 M.)
Ia adalah seorang filsuf Jerman. Ia belajar teologi di Jena (1780-1788
M) Pada tahun 1810-1812M, ia menjadi rektor Universitas Berlin.
Filsafatnya disebut “Wissenschaftslehre” (ajaran ilmu
pengetahuan). Secara sederhana pemikiran Fichte: manusia memandang
objek benda-benda dengan inderanya. Dalam mengindra objek tersebut,
manusia berusaha mengetahui yang dihadapinya. Maka berjalanlah proses
intelektualnya untuk membentuk dan mengabstraksikan objek itu menjadi
pengertian seperti yang dipikirkannya
3. G. W. F. Hegel (1770-1031 M.)
Ia belajar teologi di Universitas Tubingen dan pada tahun 1791
memperoleh gelar Doktor. Inti dari filsafat Hegel adalah konsep Geists
(roh atau spirit), suatu istilah yang di ilhami oleh agamanya. Ia
berusaha menghubungkan yang mutlak dengan yang tidak mutlak. Yang
mutlak itu roh atau jiwa, menjelma pada alam dan dengan demikian
sadarlah ia akan dirinya. Roh itu dalam intinya ide (berpikir).
1.5 Idealisme dalam Pendidikan
Aliran idealisme terbukti cukup banyak berpengaruh dalam dunia
pendidikan. Idealisme terpusat tentang keberadaan sekolah. Aliran
inilah satu-satunya yang melakukan oposisi secara fundamental terhadap
naturalisme. Pendidikan harus terus eksis sebagai lembaga untuk proses
pemasyarakatan manusia sebagai kebutuhan spiritual, dan tidak sekedar
kebutuhan alam semata.
Bagi aliran idealisme, peserta didik merupakan pribadi tersendiri,
sebagai makhluk spiritual. Guru yang menganut paham idealisme biasanya
berkeyakinan bahwa spiritual merupakan suatu kenyataan, mereka tidak
melihat murid sebagai apa adanya, tanpa adanya spiritual. Sejak
idealisme sebagai aliran filsafat pendidikan menjadi keyakinan bahwa
realitas adalah pribadi, maka mulai saat itu dipahami tentang perlunya
pengajaran secara individual. Pola pendidikan yang diajarkan filsafat
idealisme berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat
dari anak atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat tapi idealisme.
Maka tujuan pendidikan menurut aliran idealisme terbagi atas tiga hal,
tujuan untuk individual, masyarakat, dan campuran antara keduanya.
Pendidikan idealisme untuk individual antara lain bertujuan agar anak
didik bisa menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki
kepribadian yang harmonis, dan pada akhirnya diharapkan mampu membantu
individu lainnya untuk hidup lebih baik. Sedangkan tujuan pendidikan
idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan antar
manusia. Sedangkan tujuan secara sintesis dimaksudkan sebagai gabungan
antara tujuan individual dengan sosial sekaligus, yang juga
terekspresikan dalam kehidupan yang berkaitan dengan Tuhan.
b) Realisme
Pada hakikatnya kelahiran realisme sebagai suatu aliran dalam filsafat
sebagai sintesis antara filsafat idealismeImmanuel Kant di satu sisi dan empirisme John Locke di sisi lainnya. Realisme ini kadang kala
disebut juga neo rasonalisme. John Locke memandang
bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat metafisik dan universal. Ia
berkeyakinan bahwas esuatu dikatakan benar jika didasarkan pada
pengalaman-pengalaman indrawi, sifatnya induksi. John Locke menyangkal kebenaran akal.
Gagasan filsafat realisme terlacak dimulai sebelum periode abad masehi
dimulai, yaitu dalam pemikiran murid Plato bernama Aristoteles (384-322
SM). Sebagai murid Plato, sedikit banyak Aristoteles tentu saja
memiliki pemikiran yang sangat dipengaruhi Plato dalam berfilsafat.
Dalam keterpengaruhannya, Aristoteles memiliki sesuatu perbedaan
pemikiran yang membuatnya menjadi berbeda dengan Plato
Aristoteles
memandang dunia dalam terma material. Segala sesuatu yang ada dihadapan
kita adalah sesuatu yang riil dan terpisah dari alam pikiran, namun ia
dapat memunculkan pikiran melalui upaya selektif terhadap berbagai
pengalaman dan melalui pendayagunaan fungsi akal. Jadi, realitas yang
ada adalah dalam wujud natural, sehingga dapat dikatakan bahwa segala
sesuatu selalu digerakkan oleh alam.
c) Rasionalisme
Rasionalisme adalah suatu aliran filsafat yang muncul pada zaman modern
dengan menekankan bahwa dunia luar adalah sesuatu yang riil. Realitas
berbeda dengan jiwa yang mengetahui objek atau dunia luar tersebut.
Realitas merupakan pertemuan jiwa manusia dan dunia luar sebagai
objeknya. Rasionalisme memiliki suatu keyakinan bahwa sumber
pengetahuan terletak pada rasio manusia melalui persentuhannya dengan
dunia nyata di dalam berbagai pengalaman empirisnya.
Secara etimologis rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris
rationalism. Kata ini berakar dari kata dalam bahasa latin ratio yang
berarti “akal”. Menurut A.R. lacey berdasarkan akar katanya
rasionalisme adalah : sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal
merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Rasionalisme adalah
merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide
yang masuk akal. Selain itu tidak ada sumber kebenaran hakiki.
Sementara itu menurut istilah, rasionalisme adalah paham filsafat yang
menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam mencari,
memperoleh, dan mengetes pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal,
temuannya diukur dengan akal juga. Dicari dengan akal ialah dicari
dengan berpikir logis. Diukur dengan akal maksudnya diuji, apakah
temuan itu logis atau tidak. Bila logis benar, bila tidak logis salah.
Akal itulah aturan untuk mengatur manusia dan alam. Ini juga berarti
bahwa kebenaran itu berasal dari akal (rasio).
Rasionalisme menekankan bahwa kesempurnaan manusia tergantung pada
kualitas rasionya dalam mencerna realitas yang ada di sekitarnya.
Kualitas rasio manusia ini tergentung kepada penyediaan kondisi yang
memungkinkan berkembangnya rasio ke arah yang memadai untuk menelaah
berbagai permasalahan kehidupan menuju penyempurnaan dan kemajuan.
Pribadi-pribadi yang rasional adalah pribadi-pribadi yang mempunyai
suatu keyakinan atas dasar kesimpulan yang berlandaskan pada analisis
mendalam terhadap berbagai bukti yang dapat dipercaya, sehingga
terdapat hubungan rasional antara ide dan kenyataan empirik. Untuk
keperluan ini, diperlukan adanya kemampuan tata logik yang baik yang
akan berguna bagi pengembangan rasionalitas tersebut.
2. Pelopor Filsafat Rasionalisme
Rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650) yang disebut
sebagai bapak filsafat modern. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan
ilmu kedokteran. Ia menyatakan, bahwa ilmu pengetahuan harus satu,
tanpa bandinganya, harus disusun oleh satu orang, sebagai bangunan yang
berdiri sendiri menurut satu metode yang umum. Yang harus dipandang
sebagai hal yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear
and distinctively). Ilmu pengetahuan harus mengikuti langkah ilmu
pasti, karena ilmu pasti dapat dijadikan model cara mengenal secara
dinamis.
Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk
membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional(skolastik), yang
pernah diterima tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu
pengetahuan yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam pemikiran
saat itu juga masih dipengaruhi oleh khayalan-khayalan. Descartes
menginginkan cara yang baru dalam berpikir, maka diperlikan titik tolak
pemikiran yang pasti yang dapat ditemukan dalam keragu-raguan, Cogito ergo sum(saya berfikir maka saya ada). Jelasya,
bertolak dari keraguan untuk mendapatkan kepastian.
Oleh Descartes, dikatakan dengan amat tegas, bahwa manusia itu terdiri
dari jasmaninya dengan keluasanya (extensio) serta budi dengan
kesadaranya. Kesadaran ini rohani dan yang bertindak itu sebenarya
budilah. Dalam pengetahuan dan pengenalan misalnya, satu-satunya
pengetahuan yang benar itu hanya yang bersumber pada kesadaran. Jiwa
dan badan memang terhubungkan, akan tetapi hubungan ini sejajar, jadi
tidak merupakan kesatuan. Ada pengaruh jiwa kepada badan, akan tetapi
pengaruh ini hanya secara materi, tetaplah kedua hal tersebut
berdampingan.
2.1 Tokoh-tokoh Rasionalisme
Tokoh-tokoh terpenting aliran rasionalisme adalah:
- Blaise Pascal
- Cristian Wolf
- Rene Descartes
- Baruch Spinoza
- G.W Leibnitz
2.2 Inti Pemikiran
Makna penting teori Descartes punya nilai ganda. Pertama, dia
meletakkan pusat sistem filosofinya persoalan epistomologis yang
fundamental, "Apakah asal-muasalnya pengetahuan manusia itu?" para
filosof terdahulu sudah mencoba melukiskan gambaran dunia. Descartes
mengajar kita bahwa pertanyaan macam itu tidak bisa memberi jawab yang
memuaskan kecuali bila dikaitkan dengan pertanyaan "Bagaimana saya
tahu?".
Kedua, Descartes menganjurkan kita harus berangkat bukan dengan
kepercayaan, melainkan dengan keraguan. (Ini merupakan kebalikan
sepenuhnya dari sikap St. Augustine, dan umumnya teolog abad tengah
bahwa kepercayaan harus didahulukan). Memang benar Descartes kemudian
meneruskan dan sampai pada kesimpulan teologis yang ortodoks, tetapi
para pembacanya lebih tertarik dan menaruh perhatian lebih besar kepada
metode yang dikembangkannya ketimbang kongklusi yang ditariknya.
(Ketakutan gereja bahwa tulisan-tulisan Descartes akhirnya akan menjadi
bahaya, jelas sekali).
Dalam filosofinya, Descartes menekankan beda nyata antara pikiran dan
obyek material, dan dalam hubungan ini dia membela dualisme. Perbedaan
ini telah dibuat sebelumnya, tetapi tulisan-tulisan Descartes
menggalakkan perbincangan filosofis tentang masalah itu. Permasalahan
yang dikemukakannya menarik para filosof sejak itu dan tetap tak
terpecahkan.
Pengaruh besar lain dari konsepsi Descartes adalah tentang fisik alam
semesta. Dia yakin, seluruh alam (kecuali Tuhan dan jiwa manusia)
bekerja secara mekanis, dan karena itu semua peristiwa alami dapat
dijelaskan secara dan dari sebab-musabab mekanis. Atas dasar ini dia
menolak anggapan-anggapan astrologi, magis dan lain-lain ketakhayulan.
Berarti, dia pun menolak semua penjelasan kejadian secara teleologis.
(Yakni, dia mencari sebab-sebab mekanis secara langsung dan menolak
anggapan bahwa kejadian itu terjadi untuk sesuatu tujuan final yang
jauh). Dari pandangan Descartes semua makhluk pada hakekatnya merupakan
mesin yang ruwet, dan tubuh manusia pun tunduk pada hukum mekanis yang
biasa. Pendapat ini sejak saat itu menjadi salah satu ide fundamental
fisiologi modern.
Descartes menggandrungi penyelidikan ilmiah dan dia percaya bahwa
penggunaan praktisnya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dia pikir, para
ilmuwan harus menjauhi pendapat-pendapat yang semu dan harus berusaha
menjabarkan dunia secara matematis. Semua ini kedengarannya modern.
Tetapi, Descartes, melalui pengamatannya sendiri tak pernah
bersungguh-sungguh menekankan arti penting ruwetnya percobaan metode
ilmiah.
2.3 Korelasi Rasionalisme dengan Pendidikan
Upaya penyadaran akan fungsi manusia sebagai makhluk rasional merupakan
tugas yang esensial bagi dunia pendidikan, karena memang eksistensinya
bersentuhan langsung dengan kemanusiaan itu sendiri. Dengan demikian,
penumbuhkembangan berpikir reflektif-kritis-kreatif ini menurut aliran
rasionalisme merupak kunci suksesnya suatu pendidikan. Upayanya tentu
melalui proses kependidikan yang erat kaitannya dengan pengaturan
struktur-struktur psikologis melalui interaksi organisme dengan
lingkungan, mulai dalam menghadapi persoalan-persoalan sederhana sampai
berbagai problem yang rumit dan kompleks.
Jika pengembangan dan penyempurnaan rasionalitas akan dicapai melalui
upaya pendidikan, maka diperlukan semacam ekosistem rasional yang akan
mendukung terciptanya kemampuan berpikir rasional tersebut. Mengingat
berpikir berkenaan dengan kebebasan mengeluarkan pendapat dan pikiran,
maka aspek kebebasan merupakan aspek penting dalam mewujudkan
manusia-manusia yang di inginkan.
Berdasarkan pemikirannya, aliran ini berpendapat bahwa tujuan
pendidikan adalah semacam pertumbuhan dan perkembangan subjek didik
secara penuh berdasarkan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
luas yang berguna bagi kehidupannya, sehingga ia pun menyesuaikan diri
dengan masyarakat dan lingkungannya.
KESIMPULAN
Filsafat berasal dari perkataan Yunani yaitu Philos danSophia yang berarti cinta kebijaksanaan atau belajar. Lebih dari itu dapat di artikan cinta belajar pada
umumnya termasuk dalam suatu ilmu yang kita sebut sekarang dengan filsafat, untuk alasan inilah maka sering dikatakan bahwa
filsafat adalah induk atau ratu ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah
segala upaya, latihan dan sebagainya untuk menumbuh kembangkan segala
potensi yang ada dalam diri manusia baik secara mental, moral dan fisik
untuk menghasilkan manusia yang dewasa dan bertanggung jawab sebagai
makhluk yang berbudi luhur.
Filsafat pendidikan dapat di artikan sebagai studi tentang pandangan
filosofis dari sistem aliran filsafat terhadap masalah-masalah
kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan
perkembangan manusia. Ada beragam aliran filsafat yang berkembang
didunia, mulai dari jaman klasik (Yunani kuno) hingga jaman modern, di
antaranya yaitu aliran idealisme, realisme dan rasonalisme.
DAFTAR PUSTAKA
Ihsan, Hamdani dan Ihsan, A. Fuad. 2007. Filsafat Pendidikan Islam, Cet. III. Bandung: Pustaka Setia.
Muhmidayeli. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung: Refika
Aditama.
Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tafsir, Ahmad. 2000. Filsafat Umum. Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya
Comments
Post a Comment