Syarah Aqidatul Awam Bait 1-5
أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ (1) وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ
اْلإِحْـسَان
Saya (Mushonnif/Pengarang Kitab) memulai dengan menyebut nama Allah, Dzat
yang maha pengasih, dan Maha Penyayang yang senatiasa memberikan kenikmatan
tiada putusnya.
فَالْحَـمْـدُ ِللهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ (2) اَلآخِـرِ الْبَـاقـِيْ
بِلاَ تَحَـوُّلِ
Maka segala puji bagi Allah Yang Maha Dahulu, Yang Maha Awal, Yang Maha
Akhir, Yang Maha Tetap tanpa ada perubahan.
Dan saya (mushonnif/pengarang kitab) juga memulai mengarang Mandzumah
(nadzhom2) ini dengan menambahkan hamdalah, maksdunya adalah dengan
memuji dengan lisan pada Allah yang Qodim, Al Awwal, Al Akhir, Al Baqi
disertai penghormatan padaNya dan meyakini bahwa setiap pujian itu
tetap padaNya.
Arti الحمد menurut bahasa adalah pujian dengan lisan atas segala
sesuatu yang tidak secara ikhtiar disertai rasa penghormatan baik
nikmat itu diterima atau tidak, menurut syara’ adalah perbuatan yang
tumbuh (keluar) dari penghormatan Sang Pemberi nikmat disebabkan bahwa
Dia adalah pemberi nikmat walaupun tanpa ada orang yang memuji, baik
perbuatan itu berupa dzikir dengan lisan, cinta dalam hati atau
dilakukan dengan perbuatan.
Arti القديم adalah: Allah yang mewujudkan tanpa diawali dan wujudnya
terus berlangsung.
Arti الاًول adalah: sebelum adanya segala sesuatu tanpa ada
permulaannuya.
Arti الاخر adalah: setelah adanya sesuatu tanpa ada akhirannya.
Arti الباقي adalah: kekal yang terus berlangsung
Arti بلا تحول adalah: tanpa ada perubahan dan ini adalah penjelasan sifat Al Baqi.
ثُمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَـرْمَدَا (3) عَلَى الـنَّـبِيِّ
خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا
“Kemudian, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan pada
Nabi sebaik-baiknya orang yang meng-Esakan Allah.”
Kata solawat (الصلاة) menurut bahasa adalah berdo’a untuk kebaikan,
jika kata Shalawat disandarkan pada Allah Ta’ala, maka mempunyai
arti penambahan nikmat yang disertai dengan pengagungan dan
penghormatan. Ada riwayat dari ibnu Abbas R.A. bahwasannya "Sholawat dari Allah berarti Rahmat, dan jika dari hamba berarti
do’a dan jika dari malaikat berarti meminta ampun".
Kemudian muncul pertanyaan, apa perlunya mengucapkan shalawat (do’a)
kepada Nabi Muhammad SAW padahal beliau adalah orang yang mulia dan
terpilih dengan jaminan surga dari Allah SWT? Di dalam al-Qur’an
disebutkan Allah SWT dan para malaikat mengucapkan shalawat kepada
Nabi Muhammad SAW. Sekaligus perintah Allah SWT kepada seluruh umat
Islam untuk membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW.
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk
Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi
dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. al-Ahzab : 56).
Sebagian ulama menyatakan bahwa shalawat adalah mendoakan Nabi
Muhammad SAW, agar pada masa yang akan datang, rahmat dan salam
Allah SWT itu akan terus diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sebagian ulama lain mengatakan bahwa walaupun shalawat adalah
mendo’akan Nabi Muhammad SAW namun pada hakikatnya ketika
seorang membaca shalawat ia sedang bertawassul dan mengharapkan
barokah Allah SWT turun kepada dirinya dengan perantara
shalawat tersebut. Oleh karena itulah ketika seseorang membaca
shalawat, niatnya tidak untuk mendoa’kan Nabi Muhammad SAW,
tetapi mengharap kepada Allah SWT agar semua keinginannya bisa
terkabulkan dengan barokah shalawat yang dibaca.
وَآلِهِ وَصَـحْبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ (4)
سَـبِيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ
“Dan keluarganya, para sahabatnya dan
orang-orang yang mengikuti jalan agama secara
benar bukan orang-orang yang berbuat bid’ah.”
Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
kemudian diiringi dengan shalawat kepada
keluarga dan para sahabat Nabi Muhammad SAW,
serta kepada orang-orang yang mengikuti jalan
agama secara benar bukan orang-orang yang
berbuat bid’ah. Yang dimaksud dengan mereka (keluarga Nabi)
yaitu dalam kedudukan do’a. Sebagaimana
pengertian keluarga nabi disini adalah setiap
mukmin yang bertaqwa.
Berdasar hadits Nabi dari
riwayat Anas bin Malik R.A. berkata:
Rosululloh SAW ditanya, “Siapa keluarga
Muhammad itu?” kemudian beliau menjawab:
“keluarga Muhammad adalah setiap orang yang
bertaqwa”. Adapun dalam kedudukan zakat,
Imam Malik Rahimahulloh berpendapat, mereka
(keluarga Nabi) adalah bani Hasyim saja.
Sedangkan Imam Syafi’i Rahimahulloh
berpendapat, mereka (keluarga Nabi) adalah bani
Hasyim dan Bani Mutholib.
Yang dimaksud sahabat Nabi adalah orang-orang
yang pernah melihat Nabi dalam keadaan Islam
dan meninggalkan dunia tetap pada keislamannya.
Sahabat adalah orang-orang yang mulia, dan
selalu dalam petunjuk Allah SWT, walaupun bukan
berarti mereka tidak pernah berbuat salah dan
dosa. Di antara mereka ada yang telah dijamin
masuk surga. Mereka adalah orang-orang yang
memiliki keimanan yang kokoh, rela mengorbankan
harta bahkan nyawa demi kejayaan agama Allah
SWT. Taat beribadah kepada Allah SWT dengan
sepenuh hati, bersujud demi mengabdi kepada
Allah SWT.
Yang dimaksud bid’ah menurut bahsa berarti
sesuatu yang baru tanpa ada contoh
sebelumnya. Sedangkan menurut syara’ yaitu
sesuatu yang baru yang bertentangan dengan
ketentuan pembuat Syara’ (Allah).
وَبَعْدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ
الْمَعْرِفَـهْ (5) مِنْ وَاجِـبٍ ِللهِ
عِشْـرِيْنَ صِفَهْ
Kemudian daripada itu, ketahuilah dengan yakin
bahwa Allah itu mempunyai 20 sifat wajib.
Yang dimaksud sifat wajib di sini adalah
sesuatu yang pasti ada atau dimiliki Allah
SWT atau rasul-Nya, di mana akal tidak akan
membenarkan jika sifat-sifat itu tidak ada
pada Allah SWT dan rasul-Nya. Allah itu
mempunyai 20 sifat wajib. Selain 20 sifat
wajib itu, ada juga sifat mustahil dan
sifat jaiz yang dimiliki Allah dan
Rasul-nya yang dikenal dengan istilah Aqoid
lima puluh.
Aqoid lima puluh adalah 50 hal yang wajib
ketahui dan diyakini oleh seorang yang
beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
اِعْلَمْ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى كُلِّ
مُسْلِمٍ أَنْ يَعْرِفَ خَمْسِيْنَ
عَقِيْدَةً وَكُلُّ عَقِيْدَةٍ يَجِبُ
عَلَيْهَ أَنْ يَعْرِفَ لَهَا دَلِيْلاً
اِجْمَالِيّا أَوْ تَفْصِيْلِيًّا (كفاية العوام.٣)
"Ketahuilah bahwa setiap muslim (laki-laki
atau perempuan) wajib mengetahui lima puluh
akidah beserta dalil-dalilnya yang bersifat
global atau terperinci." (Kifayatul 'Awam,
3).
Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah terdiri dari
50 aqidah, di mana yang 50 aqidah ini
dimasukkan ke dalam 2 kelompok besar, yaitu
- Aqidah Ilahiyyah (عقيدة الهية) dan
- Aqidah Nubuwwiyah (عقيدة نبوية).
Adapun Aqidah Ilahiyyah terdiri dari 41
sifat, yaitu:
- 20 sifat yang wajib bagi Allah swt: wujud (وجود), qidam (قدم), baqa (بقاء), mukhalafah lil hawaditsi (مخالفة للحوادث), qiyamuhu bin nafsi (قيامه بالنفس), wahdaniyyat (وحدانية), qudrat (قدرة), iradat (ارادة), ilmu (علم), hayat (حياة), sama' (سمع), bashar (بصر), kalam (كلام), kaunuhu qadiran (كونه قديرا), kaunuhu muridan (كونه مريدا), kaunuhu 'aliman (كونه عليما), kaunuhu hayyan (كونه حيا), kaunuhu sami'an (كونه سميعا), kaunuhu bashiran (كونه بصيرا), dan kaunuhu mutakalliman (كونه متكلما).
- 20 sifat yang mustahil bagi Allah swt: 'adam (tidak ada), huduts (baru), fana' (rusak), mumatsalah lil hawaditsi (menyerupai makhluk), 'adamul qiyam bin nafsi (tidak berdiri sendiri), ta'addud (berbilang), 'ajzu (lemah atau tidak mampu), karohah (terpaksa), jahlun (bodoh), maut, shamam (tuli), 'ama (buta), bukmun (gagu), kaunuhu 'ajizan, kaunuhu karihan, kaunuhu jahilan (كونه جاهلا), kaunuhu mayyitan (كونه ميتا), kaunuhu ashamma (كونه أصم), kaunuhu a'ma (كونه أعمى), dan kaunuhu abkam (كونه أبكم).
- 1 sifat yang ja'iz bagi Allah swt.
Sedangkan Aqidah Nubuwwiyah terdiri dari 9
sifat, yaitu:
- 4 sifat yang wajib bagi para Nabi dan Rasul: siddiq (benar), tabligh (menyampaikan), Amanah(dapat dipercaya) dan fathanah (cerdas).
- 4 sifat yang mustahil bagi para Nabi dan Rasul: kidzib (bohong), kitman (menyembunyikan), khianat, dan baladah (bodoh).
- 1 sifat yang ja'iz bagi para Nabi dan Rasul.
Comments
Post a Comment