Syarah Aqidatul Awam Bait 6
فَاللهُ مَوْجُـوْدٌ قَـدِيْمٌ بَاقِـي (6) مُخَالـِفٌ لِلْـخَـلْقِ بِاْلإِطْلاَقِ
Allah itu Wujud (Ada), Qodim (Dahulu), Baqi (Kekal) dan berbeda dengan
makhluk-Nya secara mutlak.
Sifat Wajib Allah SWT yang dua puluh tersebut adalah sebagai berikut:
1. Wujud (Ada)
Allah SWT adalah Tuhan yang wajib kita sembah itu pasti ada. Allah SWT, ada tanpa ada perantara sesuatu dan tanpa ada yang mewujudkan. Firman Allah SWT:
إِنَّنِي أَنَا اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ لِذِكْرِي (طه.١٤)
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha :
14).
Kalau sekarang manusia tidak bisa melihat Allah SWT, itu karena memang ada
hijab sehingga manusia tidak mampu melihat Allah SWT, sebagaimana yang
dialami oleh Nabi Musa AS (QS. Al-A'raf : 143). Kelak di surga, ketika
hijab itu diangkat, manusia akan mampu melihat jelas Dzat Allah SWT dan
dengan mata telanjang. Sabda Nabi SAW:
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ
تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ (رواه البخاري ومسلم)
"Dari Jarir bin Abdillah RA ia berkata, "Suatu malam kami berkumpul bersama
Nabi SAW. Kemudian Nabi SAW melihat bulan purnama, lalu bersabda,
"Sesungguhnya kelak kalian akan melihat Tuhan kalian (sama jelasnya )
seperti kalian melihat bulan purnama ini, kalian tidak silau ketika
melihatnya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Seorang badui ditanya tentang bukti adanya Allah. Dia menjawab: "kotoran
unta itu menunjukkan adanya unta dan kotoran hewan (teletong; jawa)
menunjukkan adanya hewan keledai dan bekas kaki itu menunjukkan adanya
orang yang berjalan, maka langit itu mempunyai bintang dan bumi mempunyai
jalan yang terbentang dan laut mempunyai ombak yang bergelombang, apakah
semua itu tidak menunjukkan atas adanya pencipta yang bijak, lagi Maha
Berkuasa dan Maha Mengetahui?" Adanya alam semesta beserta isinya merupakan
tanda bahwa Allah SWT ada. Dialah yang menciptakan alam raya yang
menakjubkan ini. Kebalikan sifat ini adalah sifat adam (العدم), yakni Allah SWT mustahil
tidak ada.
2. Qidam (Dahulu)
Sebagai Dzat yang menciptakan seluruh alam, Allah SWT pasti lebih dahulu
sebelum makhluk. Tidak ada permulaan pada wujudnya Allah Ta’ala maksudnya
bahwa Allah Ta’ala tidak mempunyai permulaannya karena Allah Dzat yang
agung, pencipta alam semesta dan pencipta makhluk yang ada, maka sudah
pasti Allah lebih dahulu daripada yang diciptakan oleh Allah SWT. Firman
Allah SWT:
هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيمٌ (الحديد،٣)
“Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan dia Maha
mengetahui segala sesuatu." (QS. al-Hadid : 3).
Dahulu bagi Allah SWT berarti tanpa awal. Tidak berasal dari tidak ada
kemudian menjadi Ada. Sabda Nabi SAW:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّم، كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ (رواه البخاري
والبيهقي)
"Dari Imron bin Hushain RA, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT ada (dengan
keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya." (HR. al-Bukhari dan al-Baihaqi)
Kebalikannya adalah huduts (حدوث), yakni mustahil Allah SWT itu baru dan
memiliki permulaan.
3. Baqa’ (Kekal)
Arti baqa' adalah bahwa Allah SWT senantiasa ada, tidak akan mengalami
kebinasaan atau rusak. Tiada akhir bagi keberadaan atau wujud Allah, Dia
tetap ada selama-lamanya. Tidak ada pengakhiran pada wujudnya Allah bahwa
Allah Ta’ala senantiasa ada tanpa ada ujung dan senantiasa kekal tanpa ada
akhirannya. Dalam al-Qur’an disebutkan:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلاَلِ
وَاْلإِكْرَامِ (الرحمن،26-27)
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang
mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (QS. ar-Rahman : 26-27).
Allah SWT adalah Dzat yang Maha Mengatur alam semesta. Dia selalu ada
selama-lamanya dan tidak akan binasa untuk mengatur ciptaan-Nya itu. Hanya
kepada-Nya seluruh kehidupan ini akan kembali. Firman Allah SWT:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
(القصص، ٨٨)
"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala
penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS. al-Qashash :
88).
Kebalikannya adalah sifat Fana (فناء), yang berarti mustahil Allah SWT
tidak kekal.
4. Mukhalafatu Lilhawaditsi, (Berbeda dengan makhluk)
Allah SWT pasti berbeda dengan segala yang baru (makhluk). Perbedaan Allah
SWT dengan makhluk itu mencakup segala hal, baik dalam sifat, dzat dan
perbuatannya. Firman Allah SWT:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. (الشورى، ١١)
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. as-Syura : 11).
Apapun yang terlintas di dalam benak dan pikiran seseorang, maka Allah SWT
tidak seperti yang dipikirkan itu. Imam Ahmad mengatakan :
مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلاَفِ ذَلِكَ. (الفرق بين الفرق،
٢٠)
"Apapun yang terlintas di benakmu (tentang Allah SWT) maka Allah SWT tidak
seperti yang dibayangkan itu." (Al-Farqu Bainal Firoq, 20). Karena itulah seorang mukmin tidak diperkenankan membahas Dzat Allah SWT
karena ia tidak akan mampu untuk melakukannya. Justru ketika ia menyadari
akan kelemahannya itu, maka pada saat itu sebenarnya ia telah mengenal
Allah SWT. Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq mengatakan:
اَلْعَجْزُ عَنْ دَرْكِ اْلإِدْرَاكِ اِدْرَاكٌ وَالْبَحْثُ عَنْ ذَاتِهِ
كُفْرٌ وَإشْرَاكٌ
“Ketidak-mampuan untuk mengetahui Allah SWT adalah sebuah kemampuan.
Sedangkan membahas Dzat Allah SWT adalah kufur dan syirik.” Kebalikannya adalah mumatsalatuhu lilhawaditsi (مماثلته للحوادث), yakni
mustahil Allah SWT sama dengan makhluk-Nya.

Comments
Post a Comment