Tafsir tematik Al Baqarah Ayat 38-39
Surat :
Al Baqarah
Ayat :
38-39
Tema : Kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah
a. Asbabun nuzul
Kalimat “summun wa bukmun” dalam kajian
ilmu bayan di sebut dengan tasybih, yakni suatu
istilah yang di dalamnya terdapat pengertian penyerupaan atau perserikatan
antara dua perkara (Musyabah dan Musyabah bih). Perserikatan tersebut
terjadi pada suatu makna ( wajh al-syibh) dan dengan mengunakan sebuah
alat (adat Tasybih) Pada kalimat di atas termasuk pada tasbih balig
yakni: suatu susunan kalimat yang dibuang adat tasybih nya (alat yang
dijadikan permisalah) seperti kap, mitslu, nahwu, dll dan di buang wajh syibihnya (titik persamaan antara
musyabah dan musyabah bih) nya. (Tafsir Al Munir-Dr.Wahbah Az-Zuhaili)
b. Materi Dakwah
Allah swt menyatakan bahwa Dia
menguasai segala sesuatu, ilmu-Nya meliputi seluruh makhluk yang ada, Dialah
yang mengatur alam semesta. Semua yang melata di permukaan bumi, semua yang
terbang di udara, semua yang hidup di lautan, sejak dari yang kecil sampai yang
besar, sejak dari yang nampak sampai kepada yang tidak Nampak. Urgensi Ilmu
Allah
- Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Kebutuhan kepada ilmu di atas kebutuhan kepada makanan, bahkan di atas kebutuhan kepada nafas (al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu)
- Imam al-Auza’i rahimahullah berkata, “Ilmu yang sebenarnya adalah apa yang datang dari para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu apapun yang tidak berada di atas jalan itu maka pada hakikatnya itu bukanlah ilmu (Da’a’im Minhaj an-Nubuwwah)
- Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Ilmu tidak diukur semata-mata dengan banyaknya riwayat atau banyaknya pembicaraan. Akan tetapi ia adalah cahaya yang ditanamkan ke dalam hati. Dengan ilmu itulah seorang hamba bisa memahami kebenaran. Dengannya pula seorang hamba bisa membedakan antara kebenaran dengan kebatilan. Orang yang benar-benar berilmu akan bisa mengungkapkan ilmunya dengan kata-kata yang ringkas dan tepat sasaran.” (Qowa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama)
- Hisyam ad-Dastuwa’i rahimahullah berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa suatu hari aku pernah berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla.” (Ta’thirul Anfas)
Eksistensi
ilmu menurut ibnu Qayyim al Jauziyyah
- Dengan ilmu seseorang dapat mengenal Allah
- Dengan ilmu seseorang mampu beribadah dengan benar
- Ilmu sebagai sarana berzikir kepada Allah
- Dengan ilmu seseorang dapat memantapkan keyakinan/tauhidnya kepada Allah
- Ilmu sebagai sarana untuk mendapatkan petunjuk Allah
- Ilmu sebagai sarana untuk mendapatkan jannah (surga)
- Dengan ilmu seseorang dapat mengetahui syariat dan hokum-hukum Allah
- Dengan ilmu seseorang dapat berkasih saying
- Dengan ilmu seseorang dapat membedakan antara yang hak dan yang batil
- Dengan ilmu seseorang dapat meraih derajat yang tinggi di hadapan Allah swt
(Tafsir
Al Munir-Dr.Wahbah Az Zuhaili dan Madarijus Salikin – Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah)
c. Kisi-kisi
Materi
Keluasan
ilmu Allah: 2:29; 2:30; 2:31; 2:33; 2:72; 2:74; 2:77; 2:85; 2:115; 2:140; 2:149;
2:181; 2:197; 2:215; 2:216; 2:220; 2:231; 2:232; 2:233; 2:235; 2:255; 2:270;
2:282; 2:283; 2:284; 3:7; 3:29; 3:36; 3:66; 3:73; 3:120; 3:121; 3:154; 3:167;
4:32; 4:45; 4:63; 4:104; 4:108; 4:111; 4:126; 4:127; 4:148; 5:7; 5:8; 5:14;
5:54; 5:61; 5:71; 5:97; 5:99; 5:109; 5:116; 6:3; 6:53; 6:58; 6:59;
(Indeks
Al Qur’an)
d. Hadits
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ
قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ
خَلْقَهُ فِي ظُلْمَةٍ فَأَلْقَى عَلَيْهِمْ مِنْ نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ مِنْ
ذَلِكَ النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ فَلِذَلِكَ أَقُولُ جَفَّ
الْقَلَمُ عَلَى عِلْمِ اللَّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
Diriwayatkan dari Abdullah
bin ad Dailami dia berkata, aku mendengar Abdullah bin 'Amru berkata, Aku
mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya
Allah telah menciptakan makhluknya dalam kegelapan, lalu Dia menimpakan
sebagian dari cahayaNya kepada mereka, maka barangsiapa sebagian dari cahaya
tersebut menimpanya niscaya dia mendapatkan cahaya, dan barangsiapa sebagian
dari cahaya tersebut tidak mengenainya niscaya dia akan tersesat. Oleh karena
itu, aku mengatakan; 'Pena telah kering berdasarkan pengetahuan Allah'."
Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan (HR.Tirmidzi: 2566).

Comments
Post a Comment