Tafsir Tematk Surat Al An’am Ayat 10-11
Surat :
Al An’am
Ayat :
10-11
Tema : Balasan bagi para pengolok Rasul
|
a. Asbabun
nuzul
Kalimat
“Ustuhzia” mengandung arti as-sukhriyah maksudnya; mereka telah
menghina dan memperolok-olok para rasul Allah yang di sertai dengan bahan tertawaan.
Kalimat “pahaaqa” mengandung arti nazala (turun) dan ihathah
(meliputi) maksudnya Allah menurunkan azab-Nya kepada mereka yang senantiasa
memperolok-olok para rasul-Nya. Dan tidak ada jalan bagi merek untuk
menghindari azab tersebut. (Tafsir Al Munir-Dr.Wahbah Az Zuhaili)
b. Materi Dakwah
Definisi
memperolok agama, dalam bahasa arab di sebut dengan (al-istihza) masdar
dari kata istahza’a yastahzi’u yang bermakna mengejek atau bercanda
secara halus, atau memperolok dan mempermainkan
Memperolok
agama dapat di bagi ke dalam dua bagian
- Memperolok agama secara terang-terangan, syekh al fauzan berkata: termasuk dalam pembahasan ini ialah orang yang mengatakan bahwa islam tidak cocok untuk abad ke dua puluh dia hanya cocok untuk abad pertengahan, sebab dia mencerminkan keterbelakangan dan ortodoks
- Memperolok-olok agama tidak dengan cara terang-terangan, seperti member isyarat dengan kedipan mata, mengeluarkan lidah.
Taubatnya
orang yang memperolok-olok/mendustakan agama
- Tidak di terima taubatnya, namun dia harus di bunuh sebagai orang kafir, dia tidak di salatkan dan tidak pula di doakan untuk mendapat rahmat Allah swr.
- Taubatnya di trima jika kita mengetahui kesungguhannya dalam bertaubat dan mengakui kesalahannya
Terdapat
lima golongan kafir kuraisi yang senantiasa memperolok-olok nabi yang
kesemuanya itu di hancurkan pada waktu yang bersamaan mereka adalah:
- Golongan bani asad di bawh pimpinan al aswad bin muthalib
- Golongan bani zuhrah di bawh pimpinan al aswad bin yaguts
- Golongan bani mahzum di bawh pimpinan walid bin mugirah bin Abdullah bin majzum
- Golongan bani Sahm bin umar di bawh pimpinan al Ash bin wail
- Golongan bani khuza’ah di bawh pimpinan harish bin umar bin malkan
Imam
Az Jujaj mengatakan; makna kalimat al hiqu menurut bahasa ialah segala
Sesutu yang menimpa manusia yang di anggap menyakitkan sebagai balasan Allah
swt. Terhadap apa yang telah mereka perbuat kepada para rasul-Nya.
(Sirah
Ibnu Hisam-Muhammad abdul Malik bin Hisam dan Tafsir Al Munir dan Dr. Amin bin
Abdullah asy-Syaqawi-Khuturatul istihza’I biddin)
c. Kisi-kisi
materi
Pendustaan Quraisy terhadap Nabi saw.: 3:61;
6:25; 6:26; 6:33; 6:35; 6:57; 6:66; 6:135; 6:148; 6:150; 6:156; 6:157; 9:9;
10:15; 10:39; 10:41; 10:53; 13:27; 13:31; 13:43; 15:7; 16:103; 16:113; 17:90;
17:91; 17:92; 17:93; 21:2; 21:3; 21:5; 21:6; 25:4; 26:216; 27:70; 27:80; 27:81;
28:48; 28:49; 32:3; 34:7; 34:8; 34:29; 34:43; 34:53; 35:4; 35:42; 36:69; 36:76;
37:12; 37:36; 37:170; 38:4; 38:5; 38:6; 38:7; 38:8; 38:68; 39:64; 41:4; 41:5;
42:13; 42:24; 43:24; 43:30; 43:31; 43:57; 43:58; 43:88; 44:14; 46:7; 46:8;
46:10; 50:2; 52:29; 52:30; 52:40; 52:42; 54:2; 54:3; 54:44; 68:9; 69:41; 70:36;
70:37; 74:52; 75:31; 75:32; 80:5; 80:6; 109:3; 109:5
Orang musyrik mengejekan
kaum muslimin: 2:212; 34:7; 38:63; 83:29; 83:30; 83:31; 83:32
d. Hadits
عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ مِنْ النَّاسِ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي بَلَائِهِ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ وَمَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ لَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Diriwayatkan
dari 'Ashim bin Abu An Najud dari Mush'ab bin Sa'd dari Bapaknya berkata; saya
bertanya; "Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berat
cobaannya?" Beliau menjawab; "Para Nabi, lalu orang-orang shaleh,
kemudian orang yang paling mulia dan yang paling mulia dari manusia. Seseorang
akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka akan ditambah
ujiannya, dan jika agamanya lemah maka akan diringankan ujiannya. Tidaklah
ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi tanpa
mempunyai dosa (HR.Ahmad: 1400).

Comments
Post a Comment