Ayat Al-Qur’an tentang Kelestarian Lingkungan
Kelestarian alam harus dijaga. Manusia dalam menjalani hidup sangat bergantung pada keadaan alam. Jika alam sekitar baik, manusia akan nyaman dalam menjalani hidup, sedangkan jika rusak akan merasa terancam. Alam semesta juga telah memenuhi segala kebutuhan hidup manusia. Semua yang dibutuhkan manusia, bahkan juga makhluk-makhluk Allah lainnya, telah tersedia di alam ini. Dengan demikian, menjaga kelestarian alam memang sangat penting.
A. Surah Ar-Rum [30] Ayat 41- 42 tentang Kerusakan Alam oleh Manusia
1. Membaca Surat Ar-ruum 41-42
Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), ”Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. ar-Rum [30]: 41–42).
2. Kosa Kata
3. Penerapan hukum tajwid
4. Sejarah Surat Ar-Ruum dan Isi Kandungannya.
Surat Ar-Ruum (bahasa Arab: الرّوم) adalah surah ke-30 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah. Surat ini diturunkan sesudah surah Al-Insyiqaq. Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium), karena pada permulaan surat ini, yakni ayat 2, 3 dan 4 (30:2-30:4) terdapat ramalan Al-Qur’an tentang kekalahan dan kemudian kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia.
Secara khusus kandungan surat Ar-Rum adalah sebagai berikut:
- Informasi dari Allah Swt bahwasanya terjadinya kerusakan di daratan dan lautan adalah akibat ulah tangan manusia
- Perbuatan jelek itu bersifat merusak dan akan kembali pada yang melakukannya.
- Yang membuat kerusakan dan ingkar pada Allah akan binasa di dunia dan akhirat
- Semua musibah pada hakikatnya adalah peringatan dari Allah agar manusia kembali ke jalan yang benar
- Manusia di amanati oleh Allah untuk menjaga dan melestarikan alam
- Allah mengutus para nabi dan rosul untuk membimbing manusia dalam memanfaatkan dan menjaga alam
- Kebudayaan manusia semakin lama semakin maju sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
4. Perilaku dalam kehidupan sehari-hari atas kandungan QS. Ar-Rum 41-42 sebagai berikut:
- Mensyukuri nikmat Allah
- Merawat dan memelihara alam
- Mengambil manfaatnya secara benar
- Tidak membuat kerusakan di muka bumi
- Menyayangi semua makhluk ciptaan Allah
- Senantiasa ingat kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah agar dijauhkan dari bencana
- Mempelajari sejarah umat-umat terdahulu kemudian mengambil pelajaran darinya
B. Surah Al-A‘raf [7] Ayat 56–58 tentang Larangan Berbuat Kerusakan
1. Membaca Surat Al-a'raf 56-58
Artinya: Dan janganlah Anda berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebajikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan Anda mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman- tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda -(kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (Q.S. al-A‘raf [7]: 56–58).
2. Kosa Kata
3. Penerapan hukum tajwid
3. Isi Kandungan Surah Al-A‘raf [7] Ayat 56–58
Surah al-A‘raf [7] ayat 56 berisi penjelasan bahwa Allah Swt. melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi. Kerusakan yang dimaksud di sini tidak hanya yang berupa fisik terhadap lingkungan. Akan tetapi, berbuat merusak secara moral, seperti bermaksiat, melampaui batas, dan enggan beribadah. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan kerusakan-kerusakan moral, misalnya dengan maraknya perampokan, pembunuhan, mengundi nasib, minum-minuman keras, menggunakan narkoba, dan berjudi
Ayat 57 Surah al-A‘raf [7] menjelaskan sebuah proses alam, yaitu proses terjadinya hujan. Allah Swt. meniupkan angin yang membawa kabar gembira. Angin tersebut mendahului terjadinya hujan. Jika angin tersebut membawa awan mendung, Allah Swt. menghalau dan mengarahkannya ke daerah yang tandus dan gersang kemudian turunlah hujan. Air hujan yang diturunkan oleh Allah Swt. membawa rahmat. Air hujan membasahi tanah yang semula gersang atau kering. Tanah yang telah basah menjadi subur sehingga kita dapat menanam berbagai macam buah dan tanaman. Buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan berguna bagi manusia dan hewan. Sebagian mufasir menafsirkan ayat 57 Surah
al al-A‘raf [7] untuk mengingatkan kita bahwa Allah Swt. berkuasa untuk membangkitkan atau menghidupkan kembali manusia setelah mati di alam kubur. (Hamka. 2004. Halaman 256)
Ayat 58 Surah al-A‘raf [7] memberikan perumpamaan dengan tanah yang subur dan tandus. Penyebutan tanah yang subur dan tanah yang tandus seperti dijelaskan pada ayat ini menunjukkan adanya proses alami (sunatullah) yang terjadi di bumi ini. Di atas tanah yang subur, biji yang ditanam akan tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang bermanfaat bagi manusia. Di atas tanah yang tandus, meskipun sudah ditanam biji, tetapi biji tersebut tidak tumbuh. Perumpamaan tanah yang subur dan tanah yang tidak subur menggambarkan sifat dan tabiat manusia dalam menerima petunjuk Allah Swt. Ada manusia yang dapat menerima petunjuk Allah Swt. dan mengamalkannya untuk dirinya sendiri dan masyarakat. Akan tetapi, ada juga manusia yang tidak mau menerima kebenaran. Mereka ibarat tanah tandus yang tidak dapat me-numbuhkan biji yang ditanam. Mereka tidak mau menerima kebenaran dan tidak dapat memperoleh manfaatnya sedikit pun.
C. Surah Sad [38] Ayat 27 tentang Ancaman Orang yang Berbuat Merusak
1. Membaca Surat Sad Ayat 27
Artinya:Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia -sia. Itu anggapan orang-orang yang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Q.S. Sad [38]: 27).
2. Kosa kata
3. Penerapan hukum tajwid
C. Surah Sad [38] Ayat 27 tentang Ancaman Orang yang Berbuat Merusak
1. Membaca Surat Sad Ayat 27
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا
بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ
كَفَرُوا مِنَ النَّارِ (27)
|
2. Kosa kata
وَمَا
خَلَقْنَا
|
dan kami tidak ciptakan
|
ظَنُّ
|
anggapan
|
السَّمَاءَ
|
الَّذِينَ
كَفَرُو
|
||
وَالْأَرْضَ
|
فَوَيْلٌ
|
||
بَاطِلًا
|
Bacaan
|
Hukum bacaan
|
Cara baca
|
Alasan
|
الَّذِيْنَ
|
|||
خَلَقْنَا
|
|||
السَّمَاءَ
|
|||
بَيْنَهُمَا
|
|||
فَوَيْلٌ
لِلَّذِينَ
|
bunyi tanwin lebur ke dalam huruf yang ditemui
|
3. Isi Kandungan Surah Sad [38] Ayat 27
Allah Swt. pencipta alam semesta beserta isinya. Dia menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Hanya Dia yang mampu menciptakan alam raya ini. Dengan demikian, hanya Dia pula yang patut untuk disembah, dijadikan tempat kita berlindung dan memohon pertolongan.
Dalam Surah S.a-d [38] ayat 27 Allah Swt. menjelaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dengan tidak sia-sia. Ada dua pendapat atau penafsiran terkait kalimat "Ba-tila" Pendapat pertama menyatakan bahwa maksud dari sia-sia di sini adalah tidak ada manfaat atau madaratnya. Pendapat kedua menafsirkan sia-sia sebagai tidak ada balasan terhadap perbuatan manusia.
Dalam ayat 27 Surah S.a-d [38] Allah Swt. menyatakan bahwa langit dan bumi yang diciptakan oleh Allah Swt. bermanfaat bagi makhluk. Semua yang ada di antara langit dan bumi tidak sia-sia. Allah Swt.
menciptakan segala sesuatu ada manfaatnya. Semua yang ada diantara langit dan bumi membawa manfaat yang besar bagi manusia. Misalnya udara, tanah, air, api,batu, dan pepohonan, binatang, gunung, sungai, laut, gurun, dan alam lainnya. Semua itu diciptakan dengan tidak sia-sia sebab dapat dijadikan sebagai ujian bagi manusia. Dengan ujian tersebut, manusia akan menerima balasan sesuai dengan amal perbuatannya.
Seseorang yang menganggap bahwa penciptaan langit dan bumi hanya sia-sia digolongkan sebagai orang kafir. Orang kafir tidak pernah meyakini adanya hari pembalasan. Mereka meyakini bahwa perbuatannyadi dunia tidak menimbulkan akibat apa pun setelah kematiannya. Mereka tidak menyadari bahwa saatnya nanti di akhirat akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia. Oleh karena itu, mereka berani berbuat merusak alam ini. Mereka berbuat sesukanya terhadap alam, tidak peduli akan mengakibatkan kerusakan sehingga membahayakan umat manusia dan makhluk lain. Jika seseorang bersikap demikian, Allah memperingatkannya untuk dimasukkan di neraka.