Keabadian Allah yang akan kekal selamanya
Surat
Ayat
Tema
|
: Ar-Rahman
: 26-30
: Keabadian Allah yang akan kekal selamanya
| |
a. Asbabun nuzul
Balaghah
Kalimat “ Wa yabqa wajhu rabbika” yang di maksud adalah Zatuhu Al Muqaddasah (Zat Allah yang di sucikan) dalam kajian ilmu balaghah di kenal dengan istilah majaz mursal yakni kata yang digunakan bukan pada makna asal, karena tidak ada hubungan musyabahah, dan karinahnya menghalangi pemahaman makna asli.
Allaqah (Hubungan) makna hakiki dan makna majazi dalam majaz mursal ini ada beberapa macam yakni as-sababiyyah, al-musabbabiyyah, al-juz’iyyah, al-kulliyah, al-mahaliyyah, al-haliyyah. Adapun Alaqah pada contoh di atas min babil itlaqil juz wairaadatil kul (yang di bacakan adalah juznya yaitu wajah allah tapi yang di maksud kulliyah-Nya yakni zat Allah)
(Tafsir Al-Munir-Dr.Wahbah Az-Zuhaili)
b. Materi Dakwah
Delapan (makhluk) yang terkena hukum kekal
Melalui ayat di atas Allah swt. Memberitahukan bahwa seluruh penghuni bumi akan pergi dan mati secara keseluruhan. Demikian halnya dengan penghuni langit, kecuali yang di kehendaki Allah swt. Dan tidak ada seorang pun yang tersisia selain wajah Allah yang maha mulia. Sesungguhnya Allah maha tinggi lagi maha suci, tidak akan mati dan akan tetap hidup selamanya. (QS.Al-Qashash:88)
Diantara Aqidah ahlusunah wal jamaah ialah meyakini adanya delapan (makhluk) yang terkena hukum kekal, Adapun selainnya berada pada daerah kebinasaan,
Semua (delapan makhluk) itu adalah
- Al Arsy
- Al Kursi
- Neraka
- Surga
- Pangkal tulang ekor manusia
- Ruh
- Al Lauh dan
- Al Qalam
Dalam ayat yang mulia di atas, Allah telah menyifati diri-Nya sebagai Rabb yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Artinya, Dia memang berhak untuk di besarkan, sehingga tidak boleh di durhakai dan di tentang. Ketika Allah swt. Memberitahukan tentang persamaan penghuni bumi secara keseluruhan dalam hal kematian dan bahwasanya merea semua akan menuju ke alam akhirat, maka Allah akan memberikan keputusan terhadap mereka dengan berdasarkan pada hukum-Nya yang adil, maka Dia pun berfirman “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” menganai firman-Nya “Setiap waktu Dia dalam kesibukan” Imam Qatadah mengatakan: “Dia sama sekali tidak membutuhkan penghuni langit maunpun bumi, Dia menghidupkan orang hidup dan mematikan orang mati, menjadi tumpuan orang-orang shalih dalam memenuhi kebutuhan mereka serta menjadi tujuan pengaduan mereka.
Ibnu Jarir meriwayatkan, Abdulah bin Muhammad dari ayahnya, ia bercerita: “Rasulallahsaw. Pernah membaca ayat ini: "Setiap waktu Dia dalam kesibukan" lalu kami bertanya: “Ya Rasulallah, apakah kesibukan tersebut? Beliau menjawab: “Memberikan ampunan atas suatu dosa, melapangkan kesempitan, meninggikan suatu kaum dan merendahkan kaum yang lainnya. (Tafsir Al-Munir-Dr.Wahbah Az-Zuhaili dan Darul Mansyur-Jalaluddin As Suyuti dan Taudhihul Maqashid Wa Tash-hihul Qawaid Fi Syarhi Qashidatil Imam Ibnil Qayyim,)
c. Hadits
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى { كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ } قَالَ مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَغْفِرَ ذَنْبًا وَيُفَرِّجَ كَرْبًا وَيَرْفَعَ قَوْمًا وَيَخْفِضَ آخَرِينَ
Dari Abi Darda` dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang firman Allah: "Setiap waktu Dia dalam kesibukan, " beliau bersabda: "Kesibukan Allah adalah; mengampuni dosa, menghapus kesusahan, mengangkat derajat suatu kaum dan menjatuhkan kaum yang lainnya. (HR.Ibnu Majah: 198).

Comments
Post a Comment