Mengambil perwalian selain orang mukmin

Surat
Ayat
Tema
Al-Mujaadalah
14-19
: Mengambil perwalian selain orang mukmin


a. Asbabun nuzul
Ibnu `Abbas,meriwayatkan  bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan Abdullah bin Nabtal, seorang munafik yang sering menyampaikan rahasia-rahasia kaum muslimin kepada orang-orang Yahudi. Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk di rumahnya, kemudian beliau menyampaikan kepada para sahabat yang duduk di sekitar beliau: "Akan datang ke tempatmu ini seorang yang pandangannya seperti pandangan setan, jika ia datang nanti janganlah kalian berkata-kata dengannya". Tiada berapa lama datanglah seorang (Abdullah bin Nabtal) dan Rasulullah berkata kepadanya, "Mengapa kamu beserta teman-teman kamu itu mencaci makiku dan sahabat-sahabatku?. Setelah ia dan teman-temannya sampai di hadapan Rasulullah, mereka bersumpah dengan menyebut nama Allah maka Allah menurunkan ayat-Nya “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? (Tafsir Al-Munir-Dr.Wahbah Az-Zuhaili)

b. Materi Dakwah
Pembagian sikap al-wala’ dan al-bara’ kepada orang-orang kafir dan musyrik. Sikap al-wala’ dan al-bara’ kepada orang-orang kafir dan musyrik ada dua macam dan keduanya memiliki hukum yang berbeda, yaitu:

  1. at-Tawalli, yang berarti mencintai perbuatan syirik dan pelakunya, atau menolong, membantu dan mendukung mereka untuk (melawan) orang-orang mukmin, atau senang dengan semua itu, maka ini (hukumnya) adalah kekafiran yang besar (yang menyebabkan seseorang keluar/murtad dari agama Islam) (QS al-Maa-idah:51)
  2. al-Muwaalaah, yang berarti saling berkasih sayang dan bersahabat, lawannya saling bermusuhan dan membenci. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya al-wilaayah (loyalitas/kecintaan) adalah lawan dari al-’adaawah (permusuhan), dan al-wilaayah mengandung (konsekwensi) kecintaan dan kecocokan, sedangkan al-’adaawah mengandung (konsekwensi) kebencian dan ketidakcocokan.
Patokan (dalam menilai) al-Muwaalaah adalah mencintai orang-orang yang berbuat syirik karena (urusan) dunia (semata), dan tidak ada padanya (unsur) menolong (keyakinannya). Ini hukumnya termasuk perbuatan dosa besar (tapi tidak sampai tingkat kekafiran) (QS al-Mumtahanah:1) 
Termasuk dari dasar-dasar aqidah islam, bahwa setiap muslim yang beragama islam lagi bertauhid wajib untuk:
  1. Berwala (sikap setia, loyal) terhadap orang-orang yang beraqidah islam dan memusuhi orang-orang yang menentangnya.
  2. Mencintai orang yang bertauhid yang mengikhlaskan ibadahnya untuk Allah semata.
  3. Membenci orang-orang musyrik dan munafik yang memusuhi aqidah islam
Pada dasarnya orang-orang munafik yang diterangkan di atas adalah tentara dan pesuruh setan. Mereka berkumpul, dan mengadakan perundingan rahasia adalah untuk mengerjakan perbuatan dosa dan menimbulkan permusuhan di kalangan kaum muslimin. Dan tujuan mereka melakukan usaha yang demikian hanyalah untuk menurutkan hawa nafsu mereka belaka. Tentara dan pesuruh setan itu adalah orang-orang yang durhaka kepada Allah swt.. Orang-orang yang durhaka kepada Allah pasti akan binasa dan hancur, serta di akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam neraka. (Tafsir Al-Munir-Dr.Wahbah Az-Zuhaili dan Al-Walaa wal Bara fil Islam-Shalih bin Fauzan Al-Fauzan).

c. Kisi-kisi Materi
Kaum Munafiq menyakiti Rasulullah saw.: 4:61; 4:78; 4:81; 4:113; 5:41; 9:48; 9:50; 9:58; 9:61; 9:65; 9:74; 24:11; 63:5; 63:8 
(Indeks Al Qur’an).

d. Hadits

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ تَابَعَهُ شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika berseteru curang". Hadits ini diriwayatkan pula oleh Syu'bah dari Al A'masy. (HR.Bukhari: 33).

Comments

Popular posts from this blog

Nikmat untuk ashabul yamin dan azab untuk ashabus syimal

Tafsir Ibnu Katsir Bahasa Indonesia Lengkap

Tafsir Tematik Surat Al-Maidah Ayat 116-120